Welcome to my blog :)

free counters

Rabu, 14 April 2010

ff (oneshoot) : Prince Piano

Annyeooong! Tadinya mau nerusin ff yang sarangui mellodi cuma malah jadi ff baru kekeke. Kali ini aku bikin oneshoot. Ya baca sajalah chingu^^ Mian kalo beribet ceritanya hahaha maaf juga kalo ngga jelas kaya authornya hihi :p

So, selamat membaca ff yang lumayan panjang ini~


Setiap pulang sekolah, aku dan teman-teman sering mampir di sebuah kafe yang bernama La Prime café. Mungkin bisa dibilang kafe ini tempat nongkrong kami. Hari ini aku juga sedang berada di La Prime café. Selain datang dengan teman aku juga sering datang ke kafe ini sendirian, begitupun hari ini. Sebenarnya kafe ini biasa saja, sama seperti kafe-kafe lain yang ada di Seoul. Hanya saja aku sangat tertarik dengan pemain piano di kafe ini.

Pemain piano itu selalu membuatku tak ingin beranjak dari tempat itu dengan alunan musik yang begitu lembut dan damai. Dia seorang pria berpostur jangkung dengan kulit putih bersih seperti bayi dan berwajah imut pula. Matanya sipit, berbeda dengan mataku yang bulat. Jika ia tersenyum atau tertawa matanya jadi seperti terpejam. Namanya Henry. Henry Lau.

Hari itu kafe sedang sepi. Dan aku memilih tempat duduk di dekat panggung supaya bisa melihat Henry lebih dekat. Jujur saja aku tidak pernah bosan melihatnya bermain pian walaupun aku sering datang kemari. Menurutku ia mempesona! Dia sangat berkharisma ketika sedang bermain piano. Permainan pianonya selalu membuatku kagum. Sepertinya bukan hanya aku yang selalu memperhatikannya. Karena, setiap anak putrid yang datang ke kafe ini pasti selalu senyum-senyum sendiri melihat Henry atau langsung bisik-bisik pada temannya. Ya, mereka menggosip tentang Henry. Hobi anak perempuan. Memang ku akui Henry itu tampan.

Selesai memainkan lagunya, Henry menundukan kepalanya lalu melirik ke arahku dan tersenyum. Senyumnya manis sekali! Membuatku mau pingsan saja! Henry kembali meletakkan jari-jarinya di atas tuts-tuts piano dan mendekatkan wajahnya ke mikrofon. Pada saat itu pula ia melihat ke arahku lagi.

“Nona berpita Merah yang disana, apa mau meminta suatu lagu?” Tanya Henry. Tadinya aku tidak menjawab karena kurasa dia tidak berbicara padaku. Tapi setelah kusadari hanya aku yang memakai pita warna merah, aku jadi salah tingkah.

“Eh, hmm, aku ingin lagu A Whole New World!” Kataku spontan karena itu lagu favoritku.

“Baiklah kalau begitu kita berduet!” Henry bangkit dari kursinya dan mengambil mikrofon. Lalu ia memberikan mikrofon itu padaku.

“Maaf, apa tidak apa-apa? Lagipula….” Belum selesai bicara Henry sudah memotong.

“Santai saja. Kafe sedang sepi jadi tidak perlu gugup, oke?” Henry tersenyum padaku dan karenanya aku tidak bisa menolak.

Henry mulai memainkan nada demi nada. Akupun mulai menyanyi. Padahal aku belum pernah bernyanyi di kafe sebelumnya. Tapi kali ini aku bernyanyi dengan nyaman sekali.

Setelah lagu selesai aku duduk kembali ke tempatku dan Henry juga beristirahat sebentar. Kukira dia beristirahat diluar atau, ya… Di tempat lain, mungkin. Ternyata ia menghampiri mejaku.

“Permisi nona, boleh saya duduk disini?” Tanya Henry dengan senyum mautnya..

Dengan sedikit gugup aku menjawab, “Ah, iya boleh. Silahkan.”

Henry melihat sekeliling, sepertinya sedang memastikan atau apa, ya aku tidak tahu.

“Kau datang sendiri?” Tanya Henry.

“Iya. Teman-temanku sibuk dengan urusanya masing-masing.”

“Ngomong-ngomong kita belum berkenalan kan? Kenalkan aku Henry Lau. Cukup panggil Henry saja.” Henry menjulurkan tangannya padaku. Dan aku membalas jabatan tangannya.

“Aku Han KyoungMi. Kau bisa panggil aku Kyoungmi.” Aku menyunggingkan senyum walaupun pasti terlihat kaku. “Oh iya Henry, aku suka permainan pianomu. Aku selalu ingin bisa bermain piano tapi tidak ada yang bisa mengajariku.” Kataku.

Henry tertawa kecil mendengar perkataanku yang polos. “Kalau kau mau, aku bisa mengajarimu.”

“Benarkah? Aku mau! Tapi kamu kan harus bermain disini?”

“Bisa ku atur. Lagi pula ini kafe pamanku dan aku bermain disinipun tidak dibayar. Aku bermain sesukaku.” Kata Henry sambil tertawa.

“Baiklah. Oh, sudah sore. Aku harus pulang. Aku permisi dulu.” Kataku cepat sambil mengambil tasku.

“Oke, hati-hati. Perlu kuantar?”

“Tidak perlu, lagi pula kita baru kenal. Maafkan aku. Sampai ketemu.” Aku langsung membungkukkan badan untuk member salam.

“Sampai ketemu.” Henry membungkukkan badan dan melambaikan tangannya ketika aku keluar dari kafe.



***



Seperti biasa aku mengunjungi kafe itu. Henry dan aku selalu mengobrol dan Henry tidak melupakan janjinya untuk mengajariku bermain piano.

Sebulan setelah perkenalan kami, kami makin dekat dan akrab. Ternyata kami sama-sama suka film dan kami hamper selalu nonton bersama. Kami juga penggemar music klasik. Aku mulai tahu banyak hal tentang Henry, pria yang mungkin sudah memikat hatiku.

“Kyoungmi!” Henry melambaikan tangannya. Dia sudah menunggu di depan gerbang sekolahku. Hari ini aku dan Henry akan pergi ke toko alat musik kakaknya Henry yang baru saja di buka.

“Henry, sudah kubilang tunggu aku di kafe saja.” Kataku pura-pura ngambek dan memanyunkan bibir. Sebenarnya aku senang sekali Henry datang menjemputku.

Henry tertawa melihat tingahku. “Kau tidak suka aku jemput? Baiklah aku pulang.” Henry membalas tingkahku dengan cara berlagak tak peduli.

“Eh! Oke, oke, arraseo! Jangan marah seperti itu. Seperti tante-tante!” Kataku sambil menjulurkan lidah.

“Siapa yang tante-tante? Ah, sudah tidak usah dibahas. Ayo pergi.” Henry memberikan Helm padaku dan kami segera berangkat ke toko baru kakaknya Henry.

Sesampai disana aku langsung di kenalkan pada kakak Henry.

“Kyoungmi ini kakakku Zhoumi, dan kakak, ini Kyoungmi.” Aku dan Kak Zhoumi saling berjabat tangan dan tersenyum.

“Baiklah silahkan melihat-lihat.Sebenarnya hanya toko kecil saja. Aku tinggal dulu ya.” Kak Zhoumi melambaikan tangan pada kami.

“Keluargamu benar-benar pencinta musik ya? Sampai membuka toko alat musik ini.” Kataku sambil memperhatikan sekeliling. Tiba-tiba Henry meninggalkanku dan dia berdiri di depan sebuah Grand Piano putih yang kelihatan mewah.

“Cantik sekali!” seru Henry dengan mata berbinar.

“Hah, pantas saja sampai sekarang kau belum punya pacar. Kau lebih cinta pada musik dan piano tanpa memperhatikan sekeliling.” Kataku asal-asalan karena melihat tingkah Henry.

“Oh ya? Kata siapa? Sok tahu kau ini!” Henry cekikikan. “Dengar ya, musik dan kau adalah dua hal yang tidak bisa aku lepaskan”.

Mendengar perkataan Henry aku merasa pipiku panas. Dan sepertinya sekarang wajahku sudah memerah seperti kepiring rebus.

“Kau bercanda? Tidak lucu tahu! Aku ingin pulang.” Kataku.

“Bercanda? Aku serius. Kenapa ingin pulang? Baru sebentar kita disini kan?” kata Henry senyum-senyum melihatku salah tingkah.

Aku berjalan keluar toko meninggalkan Henry. Henry langsung mengejarku keluar.

“Baiklah, baiklah, kita pulang tapi jangan marah-marah seperti itu. Seperti tante-tante!” Henry usil sambil mengecak-acak rambutku.

“Hey, itu kalimatku!” Kataku sambil mencubit Henry.

Henry langsung mengantarku pulang.

“Nah, masuklah. Diluar dingin sekali.” Kata Henry.

“Tidak apa-apa Henry. Aku baik-baik saja. Aku bukan orang yang mudah terserang flu,” Aku tertawa kecil. “Kau bisa pulang sekarang. Terima kasih sudah mengantarku pulang”

“Baiklah, tidak masalah. Besok datanglah ke kafe. Ada yang mau aku tunjukkan.” Kata Henry sambil bersiap untuk pulang. Aku mengangguk. Henry melambaikan tangan padaku. Aku membalas lambaiannya.

Setelah banyangannya menghilang dibalik jalan, aku membalikkan badan untuk masuk kerumah. “Dia benar-benar pria yang baik dan perhatian,” batinku.



***



Esoknya aku sudah merasa baikkan dan sudah bisa oergi sekolah. Sesuai janjiku, pulang sekolah aku langsung menuju ke kafe.

“Henry! Aku sudah datang!” Aku langsung menyapa Henry di kafe.

“Terima kasih sudah datang. Baiklah, sekrang duduk disini dan lihat aku.” Henry sudah menyiapkan Meja paling dekat panggung.

Henry duduk di depan piano dan endekatkan wajah ke mikrofon. “Lagu ini kubawakan khusus untuk Kyoungmi.” Senyumku langsung mengembang begitu ia menyebut namaku. Henry mulai memainkan nada demi nada. Henry membawakan lagu The Name I Loved, salah satu lagu kesukaan Kyoungmi.

Naega saranghaetdeon geu ireum
Bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon
Geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo
Nae ane sumgo sipeojyeo
Neol saranghal subakke eobseotdeo
Geu nareul ijen arajwoyo
Irul su eomneun sarangdo saranginikka



(That name I loved
Became too distant as I went out to call it
I now write that name down
I'm on the verge of tears
I want to hide within myself
Remember that day now
Where all I could do was love you
Because an unachievable love is still love)



Begitulah lirik lagu yang Henry nyanyikan khusus untukku. Aku kaget suara Henry begiu bagus. Aku baru pertama kali mendengarnya menyanyi. Henry mendekatkan wajah ke mikrofon,

“Kyoungmi, Saranghae!” Henry mengatakan kalimat itu dengan tegas namun lembut. Bagiku itu adalah sebuah kalimat paling berarti dan aku selalu menunggu seseorang yang mengatakannya dengan kesungguhan. Atau mungkin kalimat yang paling dinantikan semua orang, aku cinta kamu. Tanpa terasa aku menitikkan air mata karena aku merasa sangat bahagia.

“Aku juga mencintaimu.” Kami berdua saling berpandangan untuk beberapa saat.

Aku akan tidak pernah menyesal telah mengenal seorang Henry. Pria baik hati yang sangat kucintai.


Gomawo yang udah baca :) komentar dan sarannya ya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar